Rabu, 07 September 2011

Belajar Ikhlas


Malam ini, Allah kembali ajarkan padaku secara langsung apa itu arti keikhlasan. Sejujurnya, aku sendiri tak begitu memahami, apa definisi ikhlas secara harfiahnya. Tapi, untaian kata per kata tak begitu penting. Internalisasi dari kata ‘ikhlas’ lah yang lebih prioritas. Ikhlas adalah tanpa pamrih, ikhlas adalah memberi tanpa mengharap kembali.
Belajar dari seorang kakak yang sangat super. Sekarang masih hamil jalan 6 bulan. Sungguh kakak yang jauh berbeda yang saya kenal kurang lebih 10 tahun yang lalu. Tak ada lagi kesan tomboy, ceplas-ceplos, keras kepala, egois atau cerewet. Sudah berbeda 180 derajat, menjadi sosok ibu yang patut di teladani.
Biarpun perutnya sudah sangat membuncit, tidurnya tak pernah tenang, nafasnya terlalu sering sesak dan tersengal ketika kelelahan. Namun, perjuangan untuk keluarga tak pernah ia keluhkan. Mengabdi kepada suami, takut pada suami setelah takut pada Allah, itu yang menjadi prinsipnya. Mulia sekali dan membuat dimensi hati ini meleleh seketika.
Tak berlebihan, kerja kerasnya sudah ia wujudkan. Bekerja dari pagi sampai sore, mengurus rumah tangga tanpa pembantu seharian, mendidik anak sekaligus memanjakan suami, dia lakoni dengan tulus. Lillahi ta’ala katanya, ikhlas karena Allah. Sungguh, barangkali aku telat mengenal kebaikannya sekarang. barangkali aku adalah adik yang kurang ajar, namun jujur, diam-diam sayangku padanya bertambah dari hari ke hari.
Nasehatnya sama sekali tak ada paksaan. Inti dari semua obrolan kemarin malam adalah keikhlasan. Menerima. Ikhlas ibadah untuk Allah, Karena memang sejatinya manusia hidup adalah untuk beribadah kepada NYA, mengabdi se-abdi-abdinya pada NYA. Menjadi hamba sekaligus pemimpin bagi dirinya sendiri untuk kembali padaNYA kelak. Menuju kehidupan abadi penuh kebahagian, Syurganya Allah.
Kedua, SMS dari salah seorang teman di radio. Curhat tentang segala masalahnya mengenai keikhlasan. Hati ini benar-benar tersentak ketika dia sms “ajari aku bagaimana cara ikhlas”. Bagaimana mungkin? Barangkali aku adalah orang paling munafik, astagfirullah, semoga kau ampuni hamba MU ya Robb. Hamba yang masih sulit ikhlas, diminta untuk mengajari ikhlas?
Tes seberapa keimanan seseorang bisa dilihat dari perkataan yang tergambarkan dari perbuatannya juga. Sms balasan sudah terkirim. Berkali-kali mengatakan bahwa kita harus bla-bla-bla. Cambukan tersendiri bagiku. Benarkah aku juga melakukan demikian? Ya Allah, atas izinmu, semoga apa yang hamba katakaan juga tercurah perbuatan yang bisa kuamalkan.
Ketiga, sebelum berangkat ke Masjid untuk tarawih, kurogoh dompetku bermaksud ingin mengambil selembar uang untuk infaq. Terkejut ketika melihat hanya ada uang 2 lembar. Jumlahnya? Bagi saya itu tak terlalu tinggi tapi juga tak terlalu murah. Malunya aku, uang tak langsung ku ambil malah mikir-mikir sesuatu.
Ya Allah, rejeki datang darimu. Usia juga dating dar MU. Begitu juga segala yang melekat dan karunia lingkungan di sekitar adalah dari MU. Termasuk materi, semuanya dari MU, berarti ini semua adalah milik MU. Tak logis jika apa yang datang dari MU, tapi hamba tak ikhlas untuk mengembalikannya pada MU. Astaghfirullah… lebih ironis, ketika aku merasa memilikinya ya Allah. Padahal itu milik MU.
Sekali lagi kukatakan, tak ada yang kebetulan di muka bumi ini. Bahkan daun yang gugur pun telah Allah rencanakan sebelumnya. Pelajaran ikhlas DIA perkuat melalui khotib yang berkhutbah di malam ini. Penyampaian ikhlasnya melalui sketsa cerita begitu menohok hingga ke jantung hati. Sungguh cantik mendarat tepat di atas sanubari.
Ibroh yang sungguh mulia dari kata ikhlas. Rumusnya gampang saja. Ikhlas sama dengan sukses berjuta kalilipat. Oke, bagaimana ilustrasinya. Begini :
Dia bercerita, Dulu, ada seorang santri alim. Sebut saja namanya Ahmad. Di kebun belakang rumahnya tumbuh subur pohon ketela dan sudah saatnya panen. Dengan niat tulus memohon ridho Allah, dia memetik beberapa dan memberikannya kepada Pak Kyainya.
Sesampainya di tempat pak Kyai, Pemuda itu menyampaikan maksudnya.
“Ini ada sedikit ketela hasil panen kami pak Kyai. Semoga bisa manfaat.” Kata Ahmad.
Pak Kyai mengucapkan terimakasih yang tak terkira. Setelah beberapa lama ketika Ahmad hendak pulang. Pak Kyai bertanya pada istrinya,
“Nyai, di belakang ada apa? Ahmad mau pulang. Bawakanlah yang bisa dibawa untuk oleh-oleh keluarganya di rumah” Pak Kyai berujar.
Istrinya menjawab, hanya ada seekor kambing di belakang.
Maka, pak Kyai itu memerintahkan istrinya untuk memberikan kambing itu kepada Ahmad, semoga juga bisa bermanfaat dan menjadi berkah nantinya.
Ditengah perjalanan, Ahmad bertemu dengan Umar. Umar terkejut, kenapa Ahmad membawa kambing setelah pulang dari rumah pak Kyai? Diapun tak sabar dan bertanya kepada Ahmad.
“Hai Ahmad, dari mana saja kau tadi”
“Oh, tadi aku bermaksud memberikan ketela hasil kepada pak Kyai, tapi beliau sungguh baik memberikan kambing ini sebagai oleh-oleh.” Jawab Ahmad dengan tersenyum.
Umar pun tak mau kalah. Akhirnya dia pergi ke pasar untuk membeli Roti Spesial dan memberikannya kepada pak Kyai. “Jika Ahmad member ketela dapat kambing, pasti aku akan dapat sapi jika memberikan roti special ini.” Pikir Umar.
Sesampainya di tempat pak Kyai, Umar memberikan rotinya. Setelah bermaksud pulang, Umar sudah menanti-nanti, hendak dikasih apa dia?
Benar saja, pak Kyai pun kembali bertanya pada istrinya, “Nyai, di belakang ada apa? Umar  mau pulang. Bawakanlah yang bisa dibawa untuk oleh-oleh keluarganya di rumah”
Karena di dapur hanya tinggal ketela, maka keluarga pak Kyai pun memberikan ketela pada Umar. Di tengah perjalanan pulang Umar tak henti-hentinya menggerutu bahwa pak Kyai sangat tidak adil. “Ahmad ngasih ketela dapat kambing, masak aku ngasih roti special Cuma dapat ketela! Sungguh tidak adil.”
Tentu, pelajarannya adalah poin keikhlasan. Ikhlas jika tanpa pamrih dan hanya mengharap Ridho Allah, maka balasannya akan jauh berkalilipat. Namun jika perbuatan baik itu disertai pamrih, jangan harap akan dapat balasan yang lebih.
Semoga pelajaran ini akan masuk menghujam, menancap rekat tak lepas dalam hati. Tak hanya itu, semuanya juga akan terwujud melalui perbuatan dan tingkah laku sehari-hari, amin ya robbal alamin. =]

15 Agustus 2011. @ 10.27 pm.

Jumat, 12 Agustus 2011

Hari ini Nikah (baca : Indah)

Syuukuur Allhamdulillah, hari ini saya bener2 merasakan kedekatan yang luar biasa dengan Allah... :)
Sekedar syaring aja yaaa....

Pagi ini, selepas subuhan, saya sengaja tidak tidur lagi, bukan karena tidak mengantuk, tapi karena takut kebablasan tidurnya. Jam 8 ini ada janjian sama Pengaadilan Tinggi Negeri Semarang. Bukan untuk kasus yang membahayakan, cuma sidang tilang kok. Jam 9 nya, saya berjanji menjadi salah satu pengawas untuk Placement Test di SMK Texmaco. Setelah Jumatan rencana ke BRI, setelah itu ke IKIP, sorenya Buber bareng temen, abis itu Tarawih dan ketemuan lagi sama temen buat breafing training di SMP 29. Wooow, cukup padat jadwal hari ini yah... *tepuk jidad

Okay, lets Go Gego... percayalah semua akan nikah (baca : indah) pada waktunya. hahha... ungkapan ini kurang pas disisipkan di paragraf ini deh. Mmmm, i mean, yakinlah Allah akan menyuport melancarkan segara urusan. Setelah bersiap dan berbenah, 7.30 aku sudah ganteng dan wangi. Aku bersiap capcus dengan motor pinjaman (mengingat si Blue lagi ngambeg, rantainya kadang lepas) dan Jumper pinjaman (jaketku ketinggalan di Pekalongan). perjalanan akan panjang hari ini, pikirku... *geleng-geleng

Singkat cerita, di Pengadilan Ngrapyak, aku sudah dikepung dengan peserta sidang tilang lainnya. Masya Allah, masih jam 8 antrian sudah begitu puanjiang... OK Fine!! saatnya bergerilya, mencari nomer antri sidang, FYI aja, ada beberapa tahapan kalo mau sidang, ok sekalian di share dini deh.

TAHAPAN PROSES SIDANG TILANG :
  1. Langsung ke ruang samping kanan gedung, lihat di papan pengumuman (yang biasanya sudah ramai digeruduk para terdakwa lain). Carilah nomor tilang Anda (warna merah biasanya ada huruf 'A', tertera di kanan atas kartu tilang).
  2. Carilah nomer anda itu untuk mendapatkan nomer antrian sidang. No antrian adalah di sebelah kanan nomer tilang (notil), biasanya dicetak tebal. cara mecari cepat adalah, 2 digit paling belakang, contoh notil Anda 319174120 A, nah Anda fokus pada 2 digit di belakang = 20. Karena kalo ngeliat dari depan 3191, itu lebih lama, percaya deh, nomer nya mencaaarrr... tapi kalo 2 digit di belakang itu urut, pasti :) *thx to calo
  3. Setelah dapat nomer antrian, inget2, bila perlu catet! Lalu, liat sebelah papan pengumuman Anda masuk ruang sidang berapa. Taruhlah Anda mauk Ruang III.
  4. Setelah di Ruang Sidang III, tunggulah nomer antrian Anda dipanggil. Cermatlah, karena kalo kelewatan, maka penantian akan semakin panjang dan bikin sangat emosi.
  5. Setelah di ketok sidang, meluncurlah ke loket pembayaran, ambil uang Anda dan bayar setelah nomer antrian anda dipanggil juga, jadi gak usah sok langsung ngacir di depan loket, gak usah ngantri juga, menambah sesak tauuukkk. Setelah bayar, mintalah tanda bukti anda (SIM ato STNK tergantung yg mana yg ditahan).
  6. Udah dehhh....

OK, back to the curcoool
Sialnya, sidang yang seharusnya mulai jam 8 molor sampai 9. Gak tertib, kesalahan pertama, penegak disiplin tapi kok gak disiplin. Sungguh banyak orang yang muntab. Ibu-ibu didepanku berkali-kali kesal dan menekuk-nekuk mukanya. Kesian banget. Aku cuma senyam-senyum dalam hati, Pelajaran pertama yang di dapat : Sabar, Puasa adalah ujian kesabaran, termasuk ngantri gini-gini.

Alhamdulillah, setalh kpontang-panting, lelarian, sana-sini, jam 10 kurang 10, case close. Langsunglah aku ngacir ke SMK Texmako yang berada di ujung kota semarang sebelah terminal mangkang. Juauh juga ternyata, untungnya aku pas banget. Murid2 sekelas sudah pada nunggu kedatangan sang pengawasnya, yeah i'am. lembar soal dan jawaban kusebar, absen, semua peserta serius mengerjakan. Biarlah sedikit rame, yang penting tertib.

Setelah itu, temen2 seprofesi lain banyak mengeluhkan tentang murid2nya yg dijaga, Alhamdulillah murid-murid yang kujaga, biarpun cowok semua, tapi tak begitu bandel, yaaa bisa di hendel lah. cukup dengan pasang muka jutek (inget materi di teater). HHHhhh... Alhamdulillah waktunya begitu tepat....

Setelah Jumatan, ke BRI, melihat setumpukkan sepatu yg dijual, tiba2 pengen beli... haduuuuhhh, sepertinya ini efek main ke tempat kak Ira deh. Kemarin lusa pas main ke mbak Ira, dia sempat pamer sepatu2nya gitu. *ngakak mangap. Belanja deh gueeee... nggak penting banget, tapi gak papa lah, baru dapet duit ini.. Wkakakak... Niatkan karenaa Allah, membantu sesama muslim (yg jualan sepatu). Ibu-ibu gitu, gak tega kalo gak jadi beli padahal udah ngliat2....

Dan, sekarang saya di IKIP, melihat laptop nganggur dengan tempelan modem di colokannya, membuat hasrat curcolnya sangat menggelora dan membahana. Hahahha... Begitulah, cerita hari ini. Allah sungguh baik telah mengatur segala urusan saya hari ini sampai sore. Semoga setelah ini juga lancar lagi.

Kawan, sesibuk apapun urusannya, sepadat apapun acaranya, serahkanlah semuanya pada Allah. Hari ini saya buktikan secara langsung. Berpasrah padaNya adalah membawa kebahagiaan. Sungguh, Pertolongan Allah itu Nyata. Semuanya benar-benar nikah (baca : indah) pada waktunya.... Biarpun Bab 1 belum Acc, teori belum pasti disetujui, hawanya pengen ketawa-tiwi ajah..... well have anice day ya...... gaiz.....


Sekian curcol dari saya, Semoga manfaat
Ingat, tetep makan yg banyak, tetep sehat, tetep cuci kaki sebelum tidur, biar bisa jalan2... =]

Salam Cihuy Jaya,
Fahmi Sadja =]

Minggu, 07 Agustus 2011

KISAH BUKU USANG


Aku diciptakan dengan penuh cinta. Ditulis dengan penuh hati-hati dan serius agar tidak ada sedikitpun cacat dalam tubuhku, apalagi untuk isinya. Bisa-bisa orang-orang pada terjerumus jika sampai ada yang salah menulisku. Pasalnya, goresan-goresan dalam tubuhku ini akan bermanfaat untuk setiap manusia, agar mereka mampu melewati kehidupan yang keras ini. Kehidupan yang kata orang banyak kebohongan, penuh racun dunia, dan sarat dengan kepura-puraan, aku takkan mungkin menjerumuskan umat manusia di muka bumi ini sedikitpun
Ketika aku selesai disusun. Aku siap menjadi pendamping siapa saja yang ingi sukses. Aku menunggu penuh harap dan cemas. Berada lama sekali di etalase, menginginkan ada sseorang yang mengambilku dan membelinya. Bagi kami, dipilih oleh orang dan menjadi dari bagiannya adalah kemuliaan. Hidup bersama mereka dengan kedamaian dan butir-butir sajak yang kupunya akan memberikan seribu kesejukan, asalkan mereka benar-benar mau berpegang teguh padaku.
Syukurlah… Kini aku telah berada dalam rumah penuh impian. Rumah salah seorang yang patuh dengan Tuhannya. Setiap pagi hari dan malam dia mulai membacaku dan memahamiku. Senang rasanya bisa menjadi penenang baginya. Dia lantunkan sajak-sajakku yang begitu indah dan bisa membuatnya terbuai. Jangan salah, aku bukan memabukkan bukan juga menyesatkan. Tapi aku diciptakan untuk tahu banyak hal, untuk mereka yang tersesat di jalan buntu, bagi mereka yang punya sejuta pertanyaan, untuk pasangan suami istri yang mengidamkan kehidupan yang samara—sakinah mawadah warohmah, juga bagi mereka pemuda-pemudi tangguh namun sering terperangkap pada kelabilan yang jahat. Sekali lagi bagi siapapun. ya bagi siapapun. Termasuk Anda.
Tapi, sedihnya diriku sekarang. Kini aku hanya teronggok di atas lemari yang tinggi. Memang tempatku yang sekarang jauh dari jangkauan orang-orang. Apalagi anak-anak, tak akan ada yang mengganggu apalagi mengusikku sekarang , kemana tuanku itu pergi? Aku sendirian di atas sini. Bukan tenang yang kudapatkan. Namun hanya gelisah dan cemas yang kurasakan, kemana orang-orang serumah ini? Mereka mulai melupakanku , tak lagi membaca ayat-ayatku, ayat-ayat tulus yang datang dari Tuhannya. Tuhan yang selalu sayang dan cinta pada makhluk-makhluk Nya. Melupakanku berarti sama saja melupakan tuhannya.
Aku adalah kumpulan firman-firman yang mampu membuatmu tenang, merasa dekat selalu dengan Tuhanmu. Mengapa kau campakkan aku sekarang? Kapan terakhir kali kau membacaku? Kau tega membiarkan tubuhku diterpa debu-debu kotor, usang dan merasa terbuang. Kau tega melihatku digigiti ngengat-ngengat jahat. Kau juga memperlakukanku begitu kejam. Menumpukku dengan buku-buku lain. Buku-buku ilmu dunia yang tidak lebih lengkap dari yang aku punya!!
Pekerjaanmu kau anggap lebih penting dari pada membacaku. Update facebook jauh lebih eleghan dari pada meng-update pesan-pesan suci yang ada padaku. Urusan keluarga, kantor, pacar, teman-temanmu selalu kau utamakan dari pada hanya menyentuhku. Kemana kau bawa dirimu selama ini ?? Kenapa tak kau bawa diriku serta untuk melengkapi dan mendukung keseharianmu?
Aku sedih sejadi-jadinya, kau lebih mementingkan duniamu saja. Kau hanya sibuk dengan buku-buku diarymu dan curhat apapun kegelisahanmu. Aku iri ketika kau dengan semangat membaca cerita-ceita fiktif dari buku tebal berharga ratusan ribu itu. Padahal aku punya cerita yang lebih indah dan inspiratif dari nabi-nabi. Orang-orang hebat pilihan Tuhan. Kau bangga ketika membaca ensiklopedia yang katanya sangat pintar. Hey, jangan salah, tulisanku lebih ilmiah. Langsung dari Tuhan yang menciptakan kepintaran orang-orang di dunia ini, DIalah Sang Maha Pintar!!!
Wahai orang-orang yang mengaku beriman, yang ingin hidup bahagia. Jangan kau terbuai  dengan iming-iming duniawi yang hanya sementara saja. Jangan percaya pada kesenangan-kesenangan yang ditawarkan oleh setan dan iblis yang bisa menjelma jadi apapun, uang, harta, kekasih, jabatan atau suasana foya-foya. Cukuplah untuk sekarang, kembalilah ke jalan yang benar. Menuju Tuhanmu kembali ke orbitnya dan jangan sekali-kali melenceng dari jalan-jalan yang telah digariskannya. Aku akan menunjukkan jalan bagimu jika kau menjadikanku sebagai way of life mu. Peganglah teguh. Berjalanlah bersamaku, karena aku tak mungkin menjerumuskanmu. Aku adalah kumpulan ayat-ayat, firman-firman, yang dulu pernah disampaikan oleh orang-orang pilihan tuhan sebagai utusan Nya!! Akulah kitab suci itu, buku yang menyimpan seluruh rahasia alam dan penciptanya. Kau akan mengerti banyak tentang dunia dan penciptanya sebanyak mungkin. Tapi itupun belum cukup. Masih ada yang Maha Lengkap. Maha Mengerti Apapun. Dialah Tuhanmu  yang merindukanmu menuju kepadaNya.

Dia menyebut kita saat kematian menyapanya


Ya Allah, ini untuk kesekian kalinya, aku membaca cerita nabi Muhammad. Subhanaallah banget ya, ya Allah. Air mataku kembali meleleh, tak terbendung. Membaca kisah nabi dalam buku “Menatap Punggung Muhammad”.  Ya Allah, sungguh hidayah itu datang dari Mu, sungguh Kaulah yang meniup Ar Rohaman dan Ar Rohim itu, ya Allah. Sungguh Kau adalah Cinta dari segala cinta mulia di dunia ini. Ya Allah, sungguh kasih Mu melebihi kasih sayang ibu yang dikumpulkan di muka bumi ini.
Begitu santun Kau buat perangai nabiku itu ya Allah. Hingga Kau sendiripun sangat memuja dan memuji ciptaan Mu sendiri, Muhammad. Ya Allah, hamba malu ya Allah. Mana mungkin, hamba yang seorang manusia lemah ini, tak segenap jiwa, tak sepenuh peasaan, tak segenggam rasa, mencintai kekasih Mu ya Allah.  Padahal Engkau sangat mencintainya. Ya Allah, hamba yang nista ini, ingin bertemu dengan Rasul Mu yang agung itu. Rasul yang begitu cinta kepada umat-umatnya, biarpun dia tak pernah bertegur sapa, apalagi mengenal, terlebih melihat umat-umatnya. Tak pernah.
Namun ya Allah, ya Robb. Muhammad begitu tulus, dan sangat bersedih. Ketika akhir hayatnya, ketika dia menghadap kepada Mu, ketika dia Kau panggil dengan lembut, dia menyebutkan dengan fasih, “ummati… ummati…ummati”. Di akhir hayatnya, Muhammad kekasih Mu, menyebut kata ‘ummati’ ya Allah. Sebagai tanda cinta dan begitu memuliakan umat-umatnya. Begitu mengasihi umat-umatnya. Dia begitu mencintai, sepenuh perasaan jiwa raganya, terbukti saat sakarotul maut. Dia menyebut, ummati, menyebut kami, menyebutku, salah satu umatnya.
Bahkan tak hanya itu ya Allah. Muhammad menghawatirkan kami, aku juga, umatnya. Muhammad bersedih, ketika dia pergi, nasib umatnya bagaimana? Muhammad bersedih berpisah dengan kami, umat-umatya. Umat-umatnya yang belum sekalipun ia temui. Yang belum sedikitpun ia tahu seperti apa bentuknya, namun rasa cinta Muhammad, sudah begitu dalam, hingga hamba bisa rasakan sekarang, ya Allah.
Namun, apa pantas ya Allah, aku disebut sebagai umat Muhammad? Astaghfirullahal’adzim. Pantaskah ya Allah, aku dapat syafaat dari Kekasih Mu, Rasulullah saw? Pantaskah ya Robb, aku berjalan mengikuti Muhammad ketika menuju syurga kelak? Pantaskah ya Allah, aku masuk golongan orang-orang yang Engkau muliakan karena mencintai kekasih Mu, Nabi Muhammad yang agung? Pantaskah aku ya Kholiq?? Sang Maha Pencipta orang-orang mulia…. Astaghfirullahal’adzim.
Sedangkan aku masih malas-malasan menjalankan apa yang dikerjakan sang nabi. Sedangkan aku masih saja sholat tak tepat waktu. Sedangkan aku, masih saja membentak orang tua aku ketika dinasehati. Sedangkan aku, masih saja menghina guru-guru aku, padahal mereka sudah sangat tulus memberikan ilmunya kepadaku. Sedangkan aku, masih saja saling bermusuhan ya Allah. Sedangkan aku belum tulus mencintai sesama manusia dan saudaraku di muka bumi ini. Sedangkan aku masih sangat dholim terhadap sahabat-sahabat aku sendiri. Astaghfirullahal’adzim.
Ya Allah, ampunilah hamba. Ampuni kami. umat-umat kekasih Mu, yang belum bisa mendekat sepenuhnya kepada Mu. Yang belum tahu bagaimana cara membahagiakan orang tua. Yang hanya bisa merepotkan dan menyusahkan kedua orng tua. Yang masih kesulitan mendoakan orang tuanya. Yang belum bisa menjadi anak sholeh. Terlebih, yang belum bisa berbakti kepada Rosul dan Pencipta nya. Aku manusia itu ya Allah. Akulah orang itu ya Allah. Hambalah orang yang belum taqwa itu ya Robb. Ampun ya Ghofur, ampun ya Latif….
Ya Allah, hamba masih saja menagisi keduniawian hamba. Hamba akan pilu ketika kehilangan harta benda. hamba akan terasa sedih ketika dosen mulai tak bersahabat. hamba akan mulai gelisah ketika orang tua dan sahabat seolah tak lagi peduli. Hamba akan sangat risau, ketika masalah demi masalah bertubi-tubi datang. Hamba pun akan berduka, ketika teman dan sahabat saya sendiri memusuhiku. namun, aku tak sepilu, tak sesedih, tak serisau, tak berduka, ketika aku mulai jauh dari Mu ya Allah. Ampun ya Allah ampun…
Ya Allah, sesungguhnya Engkau dekat bukan? Bahkan lebih dekat dari urat nadiku kan? Maka dekatlah hamba kepada Mu ya Allah. Rapatkanlah jiwaku ya Allah untuk tunduk patuh hanya kepada Mu. Hangatkanlah aku dalam pelukan iman kepada Mu ya Robbi. Pertemukan aku, orang tua dan keluargaku, sahabat-sahabatku, guru-guruku, seluruh muslimin dan muslimat, dengan kekasih Mu itu ya Allah. Dalam pertemuan paling indah. Dalam reuni ciptaan-ciptaan Mu ya Rohman. Ciptaan-ciptaan terkasih Mu. Ciptaan-ciptaan terbaik Mu. Tentu juga, impian kami semuanya, adalah bertemu dengan Mu, ya Malikal Mulki, ya Dzal Jalaali Wal Ikrom.

Cerita-cerita BOHONG dari Tere-Liye


Huft, sekali lagi Tere-Liye membuatku termenye-menye. Aku mengakui kehebatan Tere-Liye mengolah kata. Dia telah mampu menyihirku berhadapan dengan novel mungilnya dua hari ini. Lihatlah, bahkan aku masih terlihat pucat lesu. Mataku basah dan pipinya mendingin licin. Cerita yang mengada-ada namun sukses membuat pelajaran hidup yang sungguh berarti.
Setelah Delisha dengan hafalan sholatnya, kini dia mengolah hatiku sedemikian rupa lewat tokoh Dam. Cerita tentang impian anak-anak sungguh selalu membuatku terbuai-buai, terbang hingga ke angkasa. Keren sekali. Selalu berhasil menyuntikkan seribu CC semangat yang merajuk dalam hatiku. Haiyah, bahkan kata-kataku yang kutulis pun sekarang jadi sok puitis menggerigis penuh optimis. *ngakak mangap
Novel ‘Ayahku (bukan) Pembohong’ adalah novel ke sekian kalinya yang kubaca setelah karya-karya Andrea Hirata, Djibran dan Kang Abik. Hahha, jangan heran kalau aku hanya menyebutkan sedikit nama penulis novel keren itu. Jujur, aku tak suka membaca. Termasuk baca nove. Tapi, gara-gara omongan besar teman-teman, aku jadi ingin membaca novel. Dan benar, teman-temanku benar. Beberapa rekomendasi novel-novel mereka ampuh membuatku autis sendiri ber haha-hihi atau mewek membaca novel.
Ceritanya simpel. Tentang kebencian seorang anak kepada ayahnya karena merasa dibohongi. Dam, seorang anak yang senang mendengarkan cerita dan memiliki rasa penasaran sangat tinggi. Sedari kecil, ayahnya selalu bercerita tentang petualangan masa mudanya. Bercerita dengan penuh gelora dan optimisme yang tinggi. Tentunya, pesan dari cerita itu lebih-lebih membuat bergelora, sungguh luar biasa.
Cerita dari ayahnya mampu membuat Dam bersemangat menjalani hari-harinya. Dia belajar berbesar hati, sabar menahan amarah (walaupun pada akhirnya gontai), hidup sederhana, kerja keras dan pelajaran hidup lainnya dari rangkaian kisah-kisah ayahnya. Hingga pada akhirnya kebencian mulai menyeruak manakala Dam merasa telah dibohongi ayahnya tentang penyakit ibunya.
Hanya gara-gara ayahnya tak menceritakan tentang kondisi kesehatan ibunya, Dam  naik pitam stadium 7. Dia mengutuk ayahnya seorang pembohong dan hanya membual dengan cerita-cerita omong kosong. Kebencian itu pun menyelimutinya. Dia tak sadar, padahal cerita-cerita ayahnya diam-diam juga membuatnya memiliki jiwa yang besar, semangat tinggi dan pantang menyerah. Penyesalan itu terlihat ketika di-ending ceritanya yang begitu (kalo kata salah satu temenku adalah berlebihan dan sedikit mengada-ada) mengharu tabu. *meringis koala
Haduh, tapi biarpun itu mengada-ngada, jika Tere-Liye mampu kutemui sekarang, aku akan mengatakan “Terimakasih telah membangkitkan gairahku menulis”. Loh? Kenapa tidak mengatakan tentang pesan novel itu? Hehehe, selain itu juga memang bagus banget, motivasiku membaca novel sebenarnya juga adalah karena aku pengen dapet banyak inspirasi menulis novel. Ya Robbi, pengen banget deh menghasilkan mahakarya novel yang duper keren. Biarlah tak best seller atau terkenal, yang penting mampu memberikan pencerahan, secerah matahari MU yang tak pernah meredup sampai KAU mau.
So, well done!! Thx to Tere-Liye, paling tidak beberapa paragraph ini adalah hasil kongkrit bahwa aku juga jago nulis khan? Hahaha. Hmmmm novelmu sungguh memberikan dampak perlahan tapi pasti. Semoga kau istiqomah menulis dengan hati untuk kembali ke hati. Menyadarkan nurani dengan jalan sangat teliti. Tanpa paksaan namun semuanya mengalir begitu indah tanpa henti. Kau biarkan hati yang mencari-cari cahaya Illahi itu… Selamat ya…