Minggu, 07 Agustus 2011

Dia menyebut kita saat kematian menyapanya


Ya Allah, ini untuk kesekian kalinya, aku membaca cerita nabi Muhammad. Subhanaallah banget ya, ya Allah. Air mataku kembali meleleh, tak terbendung. Membaca kisah nabi dalam buku “Menatap Punggung Muhammad”.  Ya Allah, sungguh hidayah itu datang dari Mu, sungguh Kaulah yang meniup Ar Rohaman dan Ar Rohim itu, ya Allah. Sungguh Kau adalah Cinta dari segala cinta mulia di dunia ini. Ya Allah, sungguh kasih Mu melebihi kasih sayang ibu yang dikumpulkan di muka bumi ini.
Begitu santun Kau buat perangai nabiku itu ya Allah. Hingga Kau sendiripun sangat memuja dan memuji ciptaan Mu sendiri, Muhammad. Ya Allah, hamba malu ya Allah. Mana mungkin, hamba yang seorang manusia lemah ini, tak segenap jiwa, tak sepenuh peasaan, tak segenggam rasa, mencintai kekasih Mu ya Allah.  Padahal Engkau sangat mencintainya. Ya Allah, hamba yang nista ini, ingin bertemu dengan Rasul Mu yang agung itu. Rasul yang begitu cinta kepada umat-umatnya, biarpun dia tak pernah bertegur sapa, apalagi mengenal, terlebih melihat umat-umatnya. Tak pernah.
Namun ya Allah, ya Robb. Muhammad begitu tulus, dan sangat bersedih. Ketika akhir hayatnya, ketika dia menghadap kepada Mu, ketika dia Kau panggil dengan lembut, dia menyebutkan dengan fasih, “ummati… ummati…ummati”. Di akhir hayatnya, Muhammad kekasih Mu, menyebut kata ‘ummati’ ya Allah. Sebagai tanda cinta dan begitu memuliakan umat-umatnya. Begitu mengasihi umat-umatnya. Dia begitu mencintai, sepenuh perasaan jiwa raganya, terbukti saat sakarotul maut. Dia menyebut, ummati, menyebut kami, menyebutku, salah satu umatnya.
Bahkan tak hanya itu ya Allah. Muhammad menghawatirkan kami, aku juga, umatnya. Muhammad bersedih, ketika dia pergi, nasib umatnya bagaimana? Muhammad bersedih berpisah dengan kami, umat-umatya. Umat-umatnya yang belum sekalipun ia temui. Yang belum sedikitpun ia tahu seperti apa bentuknya, namun rasa cinta Muhammad, sudah begitu dalam, hingga hamba bisa rasakan sekarang, ya Allah.
Namun, apa pantas ya Allah, aku disebut sebagai umat Muhammad? Astaghfirullahal’adzim. Pantaskah ya Allah, aku dapat syafaat dari Kekasih Mu, Rasulullah saw? Pantaskah ya Robb, aku berjalan mengikuti Muhammad ketika menuju syurga kelak? Pantaskah ya Allah, aku masuk golongan orang-orang yang Engkau muliakan karena mencintai kekasih Mu, Nabi Muhammad yang agung? Pantaskah aku ya Kholiq?? Sang Maha Pencipta orang-orang mulia…. Astaghfirullahal’adzim.
Sedangkan aku masih malas-malasan menjalankan apa yang dikerjakan sang nabi. Sedangkan aku masih saja sholat tak tepat waktu. Sedangkan aku, masih saja membentak orang tua aku ketika dinasehati. Sedangkan aku, masih saja menghina guru-guru aku, padahal mereka sudah sangat tulus memberikan ilmunya kepadaku. Sedangkan aku, masih saja saling bermusuhan ya Allah. Sedangkan aku belum tulus mencintai sesama manusia dan saudaraku di muka bumi ini. Sedangkan aku masih sangat dholim terhadap sahabat-sahabat aku sendiri. Astaghfirullahal’adzim.
Ya Allah, ampunilah hamba. Ampuni kami. umat-umat kekasih Mu, yang belum bisa mendekat sepenuhnya kepada Mu. Yang belum tahu bagaimana cara membahagiakan orang tua. Yang hanya bisa merepotkan dan menyusahkan kedua orng tua. Yang masih kesulitan mendoakan orang tuanya. Yang belum bisa menjadi anak sholeh. Terlebih, yang belum bisa berbakti kepada Rosul dan Pencipta nya. Aku manusia itu ya Allah. Akulah orang itu ya Allah. Hambalah orang yang belum taqwa itu ya Robb. Ampun ya Ghofur, ampun ya Latif….
Ya Allah, hamba masih saja menagisi keduniawian hamba. Hamba akan pilu ketika kehilangan harta benda. hamba akan terasa sedih ketika dosen mulai tak bersahabat. hamba akan mulai gelisah ketika orang tua dan sahabat seolah tak lagi peduli. Hamba akan sangat risau, ketika masalah demi masalah bertubi-tubi datang. Hamba pun akan berduka, ketika teman dan sahabat saya sendiri memusuhiku. namun, aku tak sepilu, tak sesedih, tak serisau, tak berduka, ketika aku mulai jauh dari Mu ya Allah. Ampun ya Allah ampun…
Ya Allah, sesungguhnya Engkau dekat bukan? Bahkan lebih dekat dari urat nadiku kan? Maka dekatlah hamba kepada Mu ya Allah. Rapatkanlah jiwaku ya Allah untuk tunduk patuh hanya kepada Mu. Hangatkanlah aku dalam pelukan iman kepada Mu ya Robbi. Pertemukan aku, orang tua dan keluargaku, sahabat-sahabatku, guru-guruku, seluruh muslimin dan muslimat, dengan kekasih Mu itu ya Allah. Dalam pertemuan paling indah. Dalam reuni ciptaan-ciptaan Mu ya Rohman. Ciptaan-ciptaan terkasih Mu. Ciptaan-ciptaan terbaik Mu. Tentu juga, impian kami semuanya, adalah bertemu dengan Mu, ya Malikal Mulki, ya Dzal Jalaali Wal Ikrom.

Cerita-cerita BOHONG dari Tere-Liye


Huft, sekali lagi Tere-Liye membuatku termenye-menye. Aku mengakui kehebatan Tere-Liye mengolah kata. Dia telah mampu menyihirku berhadapan dengan novel mungilnya dua hari ini. Lihatlah, bahkan aku masih terlihat pucat lesu. Mataku basah dan pipinya mendingin licin. Cerita yang mengada-ada namun sukses membuat pelajaran hidup yang sungguh berarti.
Setelah Delisha dengan hafalan sholatnya, kini dia mengolah hatiku sedemikian rupa lewat tokoh Dam. Cerita tentang impian anak-anak sungguh selalu membuatku terbuai-buai, terbang hingga ke angkasa. Keren sekali. Selalu berhasil menyuntikkan seribu CC semangat yang merajuk dalam hatiku. Haiyah, bahkan kata-kataku yang kutulis pun sekarang jadi sok puitis menggerigis penuh optimis. *ngakak mangap
Novel ‘Ayahku (bukan) Pembohong’ adalah novel ke sekian kalinya yang kubaca setelah karya-karya Andrea Hirata, Djibran dan Kang Abik. Hahha, jangan heran kalau aku hanya menyebutkan sedikit nama penulis novel keren itu. Jujur, aku tak suka membaca. Termasuk baca nove. Tapi, gara-gara omongan besar teman-teman, aku jadi ingin membaca novel. Dan benar, teman-temanku benar. Beberapa rekomendasi novel-novel mereka ampuh membuatku autis sendiri ber haha-hihi atau mewek membaca novel.
Ceritanya simpel. Tentang kebencian seorang anak kepada ayahnya karena merasa dibohongi. Dam, seorang anak yang senang mendengarkan cerita dan memiliki rasa penasaran sangat tinggi. Sedari kecil, ayahnya selalu bercerita tentang petualangan masa mudanya. Bercerita dengan penuh gelora dan optimisme yang tinggi. Tentunya, pesan dari cerita itu lebih-lebih membuat bergelora, sungguh luar biasa.
Cerita dari ayahnya mampu membuat Dam bersemangat menjalani hari-harinya. Dia belajar berbesar hati, sabar menahan amarah (walaupun pada akhirnya gontai), hidup sederhana, kerja keras dan pelajaran hidup lainnya dari rangkaian kisah-kisah ayahnya. Hingga pada akhirnya kebencian mulai menyeruak manakala Dam merasa telah dibohongi ayahnya tentang penyakit ibunya.
Hanya gara-gara ayahnya tak menceritakan tentang kondisi kesehatan ibunya, Dam  naik pitam stadium 7. Dia mengutuk ayahnya seorang pembohong dan hanya membual dengan cerita-cerita omong kosong. Kebencian itu pun menyelimutinya. Dia tak sadar, padahal cerita-cerita ayahnya diam-diam juga membuatnya memiliki jiwa yang besar, semangat tinggi dan pantang menyerah. Penyesalan itu terlihat ketika di-ending ceritanya yang begitu (kalo kata salah satu temenku adalah berlebihan dan sedikit mengada-ada) mengharu tabu. *meringis koala
Haduh, tapi biarpun itu mengada-ngada, jika Tere-Liye mampu kutemui sekarang, aku akan mengatakan “Terimakasih telah membangkitkan gairahku menulis”. Loh? Kenapa tidak mengatakan tentang pesan novel itu? Hehehe, selain itu juga memang bagus banget, motivasiku membaca novel sebenarnya juga adalah karena aku pengen dapet banyak inspirasi menulis novel. Ya Robbi, pengen banget deh menghasilkan mahakarya novel yang duper keren. Biarlah tak best seller atau terkenal, yang penting mampu memberikan pencerahan, secerah matahari MU yang tak pernah meredup sampai KAU mau.
So, well done!! Thx to Tere-Liye, paling tidak beberapa paragraph ini adalah hasil kongkrit bahwa aku juga jago nulis khan? Hahaha. Hmmmm novelmu sungguh memberikan dampak perlahan tapi pasti. Semoga kau istiqomah menulis dengan hati untuk kembali ke hati. Menyadarkan nurani dengan jalan sangat teliti. Tanpa paksaan namun semuanya mengalir begitu indah tanpa henti. Kau biarkan hati yang mencari-cari cahaya Illahi itu… Selamat ya…

Jumat, 06 Mei 2011

Serunya MCB 3G Perdana Semarang!!

dari Fahmi Sadja on Tuesday, April 26, 2011 at 9:59pm

Heeeehhmmm.... tumben-tumbenan saya nongkrong sendirian begini. Oke pemirsa, sya sedang berada di salah sebuah resto ternama di kota Semarang, tepatnya di daerah Tembalang. Hmm... seperptinya ada yang pengen dishare mumpung dapet hotspotan gratis... Tentang kejadian weekend kemarin. Haha, kejadian? terlintas dibenak pasti sesuatu yang menakutkan, mengerikan, membahayakan dan menggentingkan ya.. wkwkwk... Tidak sebahaya itu lah..

Tentang sebuah perjalanan yang indah dan tak akan pernah terlupakan. Semoga perubahan yang baik ini akan selalu istiqomah selama-lamanya, sampai saya bertemu dengan Allah di syurga nanti. Hehehe, temen2 juga ya... Jadi, adalah training MCB yang saya ikuti 2 hari weekend kemarin. Sebuah sejarah baru sebagai titik tolak, lompatan untuk perubahan yang sebesar-besarnya dalam diri. Amin ya Allah #menengadahkan tangan kecil, kemudian mengusapkannya ke muka#

Perjuangan temen2 FOSMA mencari peserta untuk 3G MCB angkatan perdana ini bisa dibilang luar biasa. Setiap hari H - 2 minggu, klesana-kemari, tele-tele sana-sini, demi meraih angka yang gemilang, minimal 50 orang. Masih terekam jelas bagaimana paniknya ketika peserta baru dikisaran 30-an. etar-ketir, khawatir dan selalu terpikir. Namun, 1000% kami yakin, tak mungkin MCB ini diundur lagi, seharusnya saja ini sudah jatah tahun lalu.

namun, Subhanallah, mungkin hari itu H-3 ya, kita baru dapat kepastian MCB lanjut setelah mencapai angka 50 peserta. lega rasanya. Keyakinan mendalam ternyata memang membuahkan hasil cemerlang. Allah sungguh telah memilih kami untuk menghadiri majelis mulia itu. Berkumpul dengan puluhan saudara sespiritual. Merenung sekaligus berbahagia merasakan betapa Allah dekat dengan kita, betapa Allah sangat cinta dengan hamba-hamba NYA.

Materi hari pertama, di sesi terakhir. Saya kasih bocoran dikit (gak papa ya..) : tentang memaafkan orang yang kita benci. Bukan dibenci sih, lebih tepatnya orang tersebut pernah menyakiti hati kita. Sungguh, butuh waktu lama saya menelisik memori di laci otak saya. siapa, siapa siapa orang yang pernah menyakiti hati saya? Ternyata, memang ada. Astagfirullah, itu artinya saya belum ikhlas memaafkan apa yang pernah ia lakukan kepada saya. Sontak, nangis saya sejadi-jadinya. Hampir teriak-teriak saya. Nah, pas banget, maaf-maaf nih ya, begitu mau doa, ealah mic dateng. Kenapa suara saya begitu jelas terfengar?? Hm..hm..hm.. Geleng-geleng saya dalam hati. Doanya jadi jaim deh, masya Alloh... Haha.. becanda ding. tapi, saya sadar betul, manusia memang tempat kelemahan dan kesombongan. Ya Allah.... insya Allah kalo sekarang udah ikhlas memaafkan :) #ngelus dada, jangan sampai kejadian lagi#

Dan, masih banyak lagi, kejadian yang menyentuh. Kapal Nabi Yunus, itu spektakuler. Hehehe.. #menginat Abi, Abraham dan Azim yang menadi patner saya saat sesi itu. menyentuh banget!!! Well, semoga bener2 pada sadar betul setelah training itu. Itulah juga kenapa malam ini saya pasang status "Kebanyakan orang (mungkin termasuk saya) sangat powerfull saat latihan (di ruang training), namun ketika ujian nyata datang, Astaghfirullah mental serasa terjun payung. Ampun ya Ghofur, begitu lemahnya kami sebagai manusia MU".

Semoga saja deh, setelah 2 hari kemarin, bener2 dibangkitkan. kalaupun tobat, ya nasuha benera, biar gak sia-sia. Malu sama Gatut Koca, Walisongo, dan kacamata 3 Dimensi. Loh??? wkwkwk... Tapi, kayaknya temen2 sih sepakat kalo perjalanan weekend kemarin meriah, gokill, seru dan seneng ya.... Selamat buat Mumun yang udah dilantik, selamat juga buat Andhika yg udah lengser. Itu artinya kamu mesti cepet2 skripsinya diiik. Buat yang lain, tmen2 dari jogja, purwokerto, kudus, terimakasih ya atas kedatangannya... Mari lanjutkan lagi kesenangan ini lain waktu. Temen2 Fosma, Semangat ya!!! TC dan DC nya jangan lupa terus digalakkan!!! :)

best regrads,
Fahmi Sadja

Welcom Jakarta

diambil dari  Fahmi Sadja on Thursday, April 14, 2011 at 2:06pm

Wah, lama juga tidak menuliskan di note ini. Kurang lebih sebulan. Ada cerita apa ya sebulan ke belakang?? Hehehe, kebiasaan nih, ketika udah nge-note bawaannya langsung melayang-layang, membayang-bayang, pergi ke masa lalu, dan berniat untuk curcool, hahaha...#ngakak kejang

Paling tidak, harusnya ada sedikit yang mesti di-share ni. Itung-itung melihaikan kebiasaan menulis. Tapi bingung apa yang mau ditulis. Pengalaman kerja di EO kemarin? yang sarat dengan kejutan dan kebahagiaan?? Hahaha.. paling tidak Festival Buku Murah untuk peringatan ultahnya Semarang ke 464, sukses terlaksana lah. Terlepas dari masalah-masalah prencil yang saya lebih memilih untuk tidak tahu saja. Hahaha.. curang...

Well, Ceritanya, kemarin baru jalan2 gitu dari Jakarta. Hahaha... Spesial banget ya itu kota. Namanya juga Ibu Kota negara tercinta, Indonesia. Selalu punya pesona sendiri bagi saya, seorang pemuda daerah yg sempat bercita-cita tinggal disana. Entah, sebenarnya magnet apa yang jadi kekuatan Jakarta ya, kok ya... orang mau-maunya pada berbondong-bondong, tergopoh-gopoh pergi ke Njrakata. Heheheh... #ngiler pengen balik lagi

Bagi saya, kenapa pernah tertarik untuk tinggal di Jakarta, karena satu alasan : Keren. Hahaha.. Entah setan mana yg membisiki saya dengan satu kata itu. Tapi, betul. Sepertinya apapun ada di Jakarta. mulai dari tempat hiburan segala rupa ada sampai tempat tiduran segala bentuk juga tersedia. Makanan tradisional dengan berbagai rasa sampai makanan fastfood paling cepat penyajiannya juga nyentrik nangkring di Jakarta. Apalagi coba? Perusahaan dan jenis pekerjaan apapun juga semuanya ada, mulai dari yang esek-esek, abal-abal sampai ke profesional dan eksekutif sekeren DPR. cieee.... ups #tutup mulut

Satu lagi, di Jakarta banyak artisnya, Stasiun TV dan Radio, travel agncy, yg semuanya menggiurkan bagi saya. Arus informasi memang kenceng beredar di Kota ini. Namun, satu kemudahan berjalan lancar di jalanan agaknya masih sulit didapat dengan bebas ketika kita tinggal di Jakarta.

Mungkin itu salah satu pesona juga. Jakarta sudah sangat terkenal dengan Kemacetannya. Bener juga sih. Waktu seakan menjadi emas yang paling superior disana. Muahal banget. Maka dari itu orang pada keseringan nyari emas itu : alias menjadi penunggu untuk sesuatu yang kadang tak tentu. Hehehe... Contoh, janjian jam 5 baru nongol jam 8. Janjian ketemu 5 menit lagi, ternyata mesti nunggu sampe 45 menit. Oaaalaaah, sungguh, jika waktu itu bisa digadaikan dengan emas, kaya lah kita... #usap keringat di Jidad

Baru 3 hari disana. Saya sendiri sudah kalangkabut. Stress aja bawaannya. Mules ngeliatin gedung yang tingginya melebihi semampainya orang-orang Amerika. Pusing ngelihatin jalanan yang penuh sesak dengan moda transportasi. Cenat-cenut liat fly over yang ruwetnya setengah ancur. Cekot-cekot ngeliat mal kok pating slerah (tercecer) dimana-mana. Duh gustiiii, kulo kok yo getun kados tiyang ndeso (ya Tuhan, saya kok heran seperti orang desa). Mental lagsung ngedrop ketika membayangkan, "am i ready to get a job here?" #kasih cendhol

Hahaha, namun, bagai mendapat durian runtuh, Petikan quote yg saya dapat dari buku bercolour kuning karangan Billy Boen bertajuk Young on Top berteriak "DO what you LOVE and LOVE what you DO". Sebuah kalimat yang dahsyat dan sarat makna. Do what you love mengajak kita untuk selalu melakukan apa yg kita sukai. Simpel aja sih alesannya, kita akan maksimal kalo melakukan apa yg kita sukai bukan? Dan, katanya dari situ passion akan muncul. Kabar baiknya, kata Donal Trump Pasion merupakan kunci utama seseorang berhasil dalam bidangnya. So, apa passion mu?

Lantas, bagaimana jika sudah terlanjur bekerja dibidang yg tidak kita sukai?? Nah, pakai kalimat kedua 'LOVE what you do'. Butuh pembesaran hati yang maksimal disini, bahwa kita diajak melihat kebawah, "hey, tidak semua orang bisa sepertimu sekarang lhooo, apa yang kau dapat sekarang adalah sebuah anugerah juga!" Intinya syukuri apa yang ada, hidup adalah anugerah, tetap jalani hidup ini melakukan yang terbaik. #sing

Allrait, segitu dulu ah, yg jelas, perjalanan 3 hari kemarin, itu LUAR BIASA. Thx buat sahabat-sahabat saya, Citra, Rizka, Satria, si kembar Zizi dan Zaza (wkwkwk), Ayi sekeluarga (top bgt!), Rizqie (Subhanallah kisahmu sebulan ini cuuy), dan semuana lah... ^^ #big hands

Sabtu, 26 Maret 2011

Pare in Love (let's remember these memories)

Diambil dari Facebooknya Fahmi Sadja on Tuesday, March 15, 2011 at 10:56am
 
Suddenly, my friend sent me a message. I thought there are some problems that he has. Directly, I replied the message. ‘May I know something?’ I typed like that. He just answered ‘may u have something to tell or share?’ Hehehe.. I confused. Perhaps I can tell about Pare. Oh ya, I remember that I don’t tell about Pare yet. My Journey in Pare… I have much stories and experiences. I confuse, where should I began to tell…

awal memasuki Jawa Timur... exited banget rasanya!!!!

But, may I mix my language, to gado-gado language?? Write in English is like a write on stone. Wwkwk… Well, Pare was Great. it’s nice place to study English. Very effective I think. Because the environment support the condition. Everyday and all day long, you can speak English like mad person. The key for study English is be a crazy person. Just talk more do less. Haha.. yeah, practice every day will make you fluently.

Wow, lumayan dua paragraph, hahha. Tapi kok tulisannya menjadi datar dan sangat tak expressive ya. Aku membenci sesuatu yang datar. But is Ok. Begitu juga di Pare, bukan datar yang kurasakan, every single day, thera some gejolak terjadi disana-sini.

Berfoto Ria di depan Camp 1. Penuh Kenangan, apakabar geboy ya???

Kejadian di Minggu pertama. sontak membuat kami terheran-heran. Kami dimanjakan dengan sajian yang murah meriah. Tapi, benar kata pepatah. Ada harga ada barang. Semakin mahal harga suatu barang, semakin bagus barang itu berbentuk. Ini pun berlaku di Pare. Harga murah, barangnya pun dapat seakan alakadarnya. Hehhe.. tapi memang, ini tak semuanya begitu. Masih banyak warung, toko, panti pijet, karaokean, dan tempat penjaja jasa lainnya yang membandrol harga murah, namun kualitas produknya juga masih prima dan enerjik. Hahhha…

Namun, seperti yang juga sudah saya sampaikan di beberapa kesempatan, bahwa ternyata tak selama harga murah itu mengandung kengiritan yang oke. Justru harga-harga murah ternyata lebih bisa menggerogoti kantong kita. ibarat lintah yang sedikit demi sedikit menyadap darah kita, begitu juga penjual-penjual di Pare. Iming-iming harga murah sukses membuat hasrat nambah dan nambah membendung tinggi. Ini menyiksa namun sesekali nikmat sekali. Guilty pleasure!!!

Menjadi anak rantau seketika saya rasakan kembali. Padahal pengalaman ngekos sudah aku geluti krang lebih 5 tahun. Namun, entah kenapa, kali itu seakan teringat 5 tahun silam. Saat lagi cupu-cupunya menginjak Semarang dengan segala kepolosan yang ada. Adaptasi dengan lingkungan sekitar, start menjalin relations baru, dan mengatur keuangan privasi. Yang terakhir ini adalah sangat menyiksa bagiku. Saya kembali disadarkan bahwa mengatur laju keuangan benar-benar menemui tingkat kesulitannya. Tak heran Negara sering dirugikan masalah money corruption.

Pembengkakan uang di segala aspek pun kian merana. Kian menggerogoti hajat hidup di Pare. Antara yakin dan tak yakin bisa mulus hidup 1 bulan di sana. Ditambah lagi, jiwa petualang berburu kesenangan ke tempat-tempat wisata juga memuncrat kemana-mana. Jiwa muda memang penuh kelabilan. Uang menjadi korban atas nama tindak kejahatan bernama foya-foya. Hahhaha…

Well, every single week, tak luput dari kesenangan itu. Minggu pertama sudah kami habiskan dengan menyusuri gua berukuran tinggi sekitar 160 cm dan lebar setara 4 jengkal tangan orang dewasa. Panjang gua itu bermacam-macam. Jika ditotal kurang lebih berjarak separo kilometer. Wow, sangat menantang. Suasana cave tentu saja gelap pekat, berair setinggi betis kadang setinggi pantat. Gemericik terpatut disana-sini, bau tanah dan air sangat terasa. Serasa bernostalgia dengan asal muasal kita, yaitu dari tanah. Wow, amazing!!

Perjalanan menyusuri Cave. Tak lupa melepas narsis dulu ahhhh...

Second weeks, we got Kelud Mountain. Banyak yang bilang pemandangan di area ini adalah menakjubkan. Benar saja, puncak dan bebukitan begitu kokoh standing. Laksana jago membusungkan dadanya. Well, sungguh indah hingga tak sabar menimbulkan bidikan sekaligus jepretan dari kamera-kamera poket dan SLR. Namun sayang, Kami tak sanggup menyusur bukit hingga ke puncak (asmara, hahaha) yang sekilas jalananya menyerupai grad wall di negeri singkek sana. Keindahan alam nuansa kelud tak membuat kami bergeming untuk lebih menggagahinya. Namun, tak mengurangi kegembiraannya.

Terjadi kelainan orientasi, sudah biasa lah, yang penting adalah kasih sayang. Hahhaha

Minggu ketiganya. Bisa dibilang ini paling seru!!! Banyak factor yang mebuatnya menjadi seru. First, kita perginya rame-rame, ada sekitar 20 orang. Second, tempat wisatanya yang mempesona adalah Jatim Park dan BNS. Ketiganya, secara otomatis kami dapat menelusurkan bakat model kami. eksyien di depan kamera. Sungguh menyenangkan. Cerita mengenai wisata ini ada di note saya sebelumnya, bisa di cekedot ghan!!!

Sempat nyasar, harusnyaa jalan ke Jatim Park 2, elalah kita malah mampir ke Jatim Park 1 dlu.. wkwkwk

Binatang lucu, namanya apa yak?? lupa!!!
Jatim Park 2, berisi museum binatang, termasuk binatang purbakala....
BNS, Permainan yang membuat kepala kami jadi Pening sebelah... wkwkwkkw

Sayang sekali, di minggu ke empat, berangsur-angsur personilnya mulai berkurang. Sudah banyak yang kembali baik ke hometown ataupun studytown nya masing-masing dengan berbagai alasannya mulai dari yang klise sampai yang digital. Tapi, bukan berarti weekend berubah warna menjadi kelabu. Hahha… sabtu pagi bisa kami hiasi dengan sepeda-pedaan hingga menuju downtown. Mengais gegorengan dan sesusuan.

ini dia, saksi bisu. Alun-alun Pare!!! oh alun-alun, aku kangen dengan susu-susumu... :))

Wah, saya acungi 4 jempol, susu sapi dan soya di alun-alun pare sangat memikat. Ini terbukti dengan seringnya kita kembali kesana setiap sabtunya. Kata orang bijak adalah tiada sabtu tanpa susu. Hahha… pisang gorengnya juga manis dan empuk makjleb. Setiap gigitannya membawa kita ke suasana berbeda. Gigitan pertama begitu menggoda, kedua serasa makan magnum, ketiga matamu akan berkerjat-kerjat karena rasanya, keempat ketika pisang itu menyentuh gigi dan masuk ke tenggorokan maka mulutmu akan mengeluarkan kata yang berbunyi ‘enak’. Selanjutnya, ML banget alias mau lagi… #ngiler pengen lagi.

Well, judul yang pas dan cocok untuk perjalanan kemarin di Pare adalah “Pare in Love”. Hahha, karena banyak cinta yang tercurah di sini. Cinta akan bahasa inggris, cinta tempatnya, cinta ke orang-orangnya, cinta makanannya, cinta budayanya, cinta apa aja lah ada disini. Rasanya pun sangat gado-gado, sedih senang, kecewa, histeris, jengkel, tegang meletup-letup jadi satu. Mulai dari yang cinlok sampai yang kehilangan sepeda. Mulai dari yang sering protes sampai yang menerima seada-adanya. Mulai dari yang kehabisan uang simpanannya sampai yang nambah pengen satu stage lagi di Pare sana.

Pare in Love... nyenengin citra sama Andhika aja nih... mmmhhh

Satu persatu tak hanya kedewasaan bahasa inggrisnya saja yang kita dapatkan. Kematangan dan pelajaran hidup juga kental terjadi di Pare. Metamorfosa dari yang ababil (ABG labil) menjadi rebil (remaja labil) menjadi debil (dewasa labil) menjadi tubil (tua labil) sampe ke babil (Bangka labil). Hahha… terasa perubahannya… Wuah pokoknya, semuanya terangkum dalam suasana romantisme di Pare…. Amazing!!! Pare pokoknya recommended!!!